Pentingnya Implementasi SMKP bagi keselamatan dan Kinerja Bagi Kegiatan Pertambangan

Keselamatan  kerja  di  sektor  pertambangan sudah menjadi isu global yang semakin  menjadi perhatian, terutama karena tingginya risiko kecelakaan dan dampak kesehatan yang mengancam para pekerja (Irzal, 2016; Octavian & Septiawan, 2022). Menurut data internasional, industri pertambangan memiliki tingkat kecelakaan kerja yang signifikan, yang disebabkan oleh lingkungan kerja yang berbahaya, penggunaan  alat  berat,  serta  kondisi  medan  yang  sulit (Putri  &  Lestari,  2023).

Kebutuhan  akan  sumber  daya  mineral  dan  energi  yang  terus  meningkat mendorong  aktivitas  pertambangan  ke  wilayah  yang semakin  berisiko,  termasuk  area  dengan  medan sulit  dan  keterbatasan  infrastruktur  keselamatan.  Di  tingkat  nasional,  pemerintah Indonesia  melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) telah memperkenalkan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) untuk meningkatkan standar keselamatan di industri ini.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan yang Baik dan Pengawasan Pertambangan Mineral Batubara, Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 1827.K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Pertambangan Yang Baik, Keputusan Direktur Jendral Mineral dan Batubara Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 185.K/37.04/DJB/2019 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Keselamatan Pertambangan dan Pelaksanaan, Penilaian, dan Pelaporan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan  Mineral dan Batubara mengacu pada aspek-aspek yang menjadi pembahasan penting bagi pelaksanaan pertambangan, yaitu:

  1. Kebijakan
  2. Perencanaan
  3. Organisasi dan Personel
  4. Implementasi
  5. Pemantauan, Evaluasi, dan Tindak Lanjut
  6. Dokumentasi
  7. Tinjauan Manajemen dan Peningkatan Kinerja

Dengan tingginya risiko dan tingkat kecelakaan dalam industri pertambangan, maka penerapan SMKP menjadi aspek utama yang perlu diperhatikan secara khusus dalam setiap perusahaan atau kegiatan pertambangan. Dampak yang timbul dari kegagalan atau insiden dalam kegiatan pada industri pertambangan tidak hanya mengarah pada aspek kesehatan pekerja saja, tetapi juga  pada  produktivitas  perusahaan.  Kecelakaan  di  area  tambang  dapat  mengakibatkan  kerugian finansial  yang  besar,  serta  mengurangi  kepercayaan  stakeholder atau maincont dan  reputasi  perusahaan.  Selain  itu, setiap  kecelakaan  juga  dapat  memperlambat  operasi  pertambangan  karena  proses  investigasi  dan pembenahan yang harus dilakukan.

Berbagai faktor memengaruhi efektivitas implementasi SMKP di sektor pertambangan. Faktor-faktor  tersebut  meliputi:

  1. Rendahnya kesadaran pekerja  tentang  pentingnya  prosedur  keselamatan
  2. Terbatasnya alokasi  anggaran  perusahaan  untuk  pelatihan  keselamatan
  3. Kurangnya keterlibatan manajemen dalam mendukung kebijakan keselamatan
  4. Tantangan geografis dan kompleksitas operasional

 

Setiap perusahaan dan kegiatan pertambangan perlu mengupayakan implementasi SMKP yang maksimal, agar risiko dalam kegiatan pertambangan tidak terus terulang. Tentu hal ini menjadi sebuah tantangan besar dalam industri ini. Salah satu upaya yang efektif adalah dengan menerapkan sertifikasi SMKP dalam kegiatan pertambangan. Karena dengan memiliki standar operasional yang terstruktur, akan menciptakan proses operasional dan hasil kinerja yang lebih baik dan konsisten.